TRADISI TORON
Sabtu, 25 Juli 2009 silam, dalam acara Halaqah Kebangsaan di PP.
Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, D. Zawawi Imron mengatakan bahwa salah
satu inferioritas orang Madura adalah dalam cara mengistilahkan
kepulangan orang Madura dari tanah Jawa yang disebut toron
(turun). Bagi Zawawi, istilah ini terkesan mengganjal karena nyatanya
secara geografis tanah Madura tidaklah lebih rendah dari tanah Jawa.
Kenapa harus disebut turun? Menurutnya, ini merupakan sikap rendah diri
orang Madura. Orang Madura menganggap orang Jawa superior.
Namun, pernyataan itu justru dibalik oleh KH. Mustofa Bisri yang
hadir juga dalam kesempatan tersebut. Bagi Gus Mus, panggilannya, justru
penyebutan toron malah memperlihatkan sikap kerendahhatian orang
Madura. Masyarakat Madura menganggap orang Jawa lebih tinggi karena itu
merupakan sikap menghargai dan memuliakan orang lain. Gus Mus
menyatakan bahwa ulama-ulama di tanah Jawa merupakan murid dari
ulama-ulama di Madura. Syaikhona Kholil Bangkalan telah melahirkan
generasi ulama yang tersebar di berbagai tempat di tanah Jawa. Ini,
menurut Gus Mus, merupakan prestasi orang Madura yang luar biasa dan
tidak bisa disepelekan.
Toron merupakan istilah lokal untuk menyebut kepulangan orang
Madura dari tanah rantau. Masyarakat Madura yang banyak merantau
biasanya berbondong-bondong toron saat hampir menjelang Idul Fitri. Ada tiga momen yang biasanya mendorong mereka melakukan toron, yaitu
waktu menjelang Lebaran Idul Fitri, Idul Adha, dan perayaan maulid Nabi
Muhammad SAW. Toron dalam bahasa lain bisa disebut mudik.
Pada tanggal likuran Ramadhan, orang Madura biasanya sudah banyak
yang pulang ke kampung halamannya. Saat itu, jalur kendaraan bisa
dipastikan makin ramai. Orang-orang Madura merasa kurang sempurna bila
berlebaran di daerah orang lain. Makanya, mereka memilih pulang meski
tempat kerjanya jauh di perantauan. Hal itu merupakan sikap orang Madura
yang guyub. Keluarga di rumah selalu menunggu mereka pulang ke kampung
halamannya.
Kebanyakan mereka akan kembali ke perantauan setelah Tellasan Petto’atau Tellasan Topa’(lebaran ketupat). Ini kebiasaan yang agak berbeda dari orang di luar Madura. Mengapa kembali setelah TellasanTopa’
Karena momen lebaran ketupat (tujuh hari setelah Idul Fitri) dirayakan
oleh orang Madura. Pada hari itu, orang-orang membuat ketupat untuk
dibagikan kepada para tetangga. Sebagian dibawa ke masjid atau mushalla
untuk suguhan jamaah yang ikut tahlilan.
Di luar Madura, perayaan Tellasan Topa’ jarang dilakukan.
Mereka membuat ketupat justru pada saat hari raya Idul Fitri. Inilah
yang membedakan antara masyarakat Madura dengan masyarakat dari daerah
lain. Ini pula yang menyebabkan sebagian besar mereka memilih kembali ke
perantauan setelah Tellasan Topa’.
Tellasan Topa’ bagi sebagian orang juga dijadikan sebagai penanda berakhirnya silaturrahmi kepada kerabat dalam rangka Lebaran Idul Fitri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar