Madura dengan segala aspek
kehidupannya, baik dalam kancah budaya, sejarah, alam, serta watak
masyarakatnya yang konon mempunyai ciri unik dan menarik.
Madura pernah menjadi “populer” lantaran dimata masyarakat
luar (etnik Madura), disimbolkan sebagai orang (masyarakat) yang keras,
temperamental, tidak suka mengalah, dan macam konotasi lainnya yang bernuansa
negatif. Bahkan carok, yang pada saat lalu menjadi “biang” konotasi ini, banyak
orang luar menilai orang Madura suka berkelahi, suka membunuh dan seterusnya.
Ironisnya, dikalangan kalangan yang kurang atau tidak
memahami kondisi Madura yang sebenarnya, maka kami ajak mengintip dan mengenal
lebih dekat apa, siapa dan bagaimana Madura yang sebenarnya.
Lokalitas Madura dengan ragam kearifan lokalnya, adat
istiadat, komunikatif dan terbuka, adalah bunga rampai yang indah dan menarik,
untuk disunting dan disematkan ditengah gantangan jaman yang makin merajam hati
dan kehidupan bangsa ini.
Dalam posisi seperti ini, maka tidak heran bila banyak
kalangan: pemerhati, pengamat, peneliti, wisatawan dalam maupun luar negeri,
tergiur untuk masuk wilayah Pulau Madura, dengan segala kepentingannya.
Dari sinilah, kami berangkat untuk mem”populer”kan kembali
semua sisi Madura, sehingga Madura benar-benar terhapus dari stigma, bahwa
Madura bukan sekedar “carok”, “kekerasan” atau “masyarakat yang temperamental”
tapi banyak hal yang menjadi referensi yang patut diapresiasi dan dicontoh oleh
masyarakat luar Madura.
Dalam tulisan di laman ini diharapkan akan menjadi jawaban,
bahwa dilain sisi keaneragaman tradisi, budaya dan kearifan lokal Madura,
banyak ajaran yang telah diisaratkan dalam falsafah orang Madura, akan
memberikan pandangan lebih jauh tentang titik nilai, pandangan hidup serta
babhurughan becce’ (pesan-pesan yang baik) sebagaimana yang telah diajarkan para pendahulu orang
Madura.
“jâgâ paghârrâ dhibi’ ja’ parlo ajâgâ paghârrâ orèng laèn”;
adalah anjuran untuk selalu introspeksi dengan melihat kesalahan sendiri
daripada mencari-cari kesalahan orang lain
“odi’ è dunnya akantha nètè obu’” juga mengajarkan sikap
kehati-hatian dalam menjalani kehidupan di dunia agar tidak tergelincir dalam
kemaksiatan, kejelekan, dan kejahatan.
“rampa’ naong beringin korong”; Anjuran-anjuran untuk saling
tolong-menolong dan pentingnya solidaritas sosial juga sangat ditekankan
seperti ungkapan ghu’tegghu’ sabbhu’ atau song-osong lombhung.
Banyak dalam hal lain yang cukup menarik untuk disimak dan
dicermati di blog Lontar Madura ini.