Minggu, 20 Desember 2015

KARAPAN SAPI

pasuruan Karapan Sapi adalah acara khas masyarakat Madura yang di gelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September, dan akan di lombakan lagi pada final di akhir bulan September atau October. Pada Karapan Sapi ini, terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang di paksa untuk berlari sekencang mungkin sampai garis finis. Joki tersebut berdiri menarik semacam kereta kayu dan mengendalikan gerak lari sapi. Panjang lintasan pacu kurang lebih 100 meter dan berlangsung dalam kurun waktu 10 detik sampai 1 menit.

Selain di perlombakan, karapan sapi juga merupakan ajang pesta rakyat dan tradisi yang prestis dan bisa mengangkat status sosial seseorang. Bagi mereka yang ingin mengikuti perlombaan karapan sapi, harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melatih dan merawat sapi-sapi yang akan bertanding sebelumnya. Untuk membentuk tubuh sepasang sapi yang akan ikut karapan agar sehat dan kuat, dibutuhkan biaya hingga Rp4 juta per pasang sapi untuk makanan maupun pemeliharaan lainnya. Sapi karapan diberikan aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari, terlebih-lebih menjelang diadu di arena karapan.

Bagi masyarakat Madura, Kerapan dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Untuk saat ini, selain sebagai ajang yang membanggakan, kerapan sapi juga memiliki peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi, yaitu sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan, peran magis religious; misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu. Terdapat seorang 'dukun' yang akan 'mengusahakan'nya. Pada setiap tim pasti memiliki seorang 'dukun' sebagai tim ahli untuk memenangkan perlombaan.

Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang

BULAN RAMADHAN DI MADURA

Sumber foto: http://www.republika.co.id/
Sumber foto: http://www.republika.co.id/
Bulan Ramadhan telah tiba kembali. Alhamdulillah, umur kita masih dipanjangkan oleh Allah sehingga bisa menikmati bulan penuh berkah ini.
Apa yang berubah dari tradisi di bulan ini di Madura? Tentu banyak. Namun, pada hal-hal tertentu masih seperti yang sudah-sudah. Misalnya soal nyare malem atau ngabuburit. Tradisi ini masih tetap dilestarikan hingga sekarang. Ada pula bagi-bagi takjil, menyulut petasan, main layangan dan sebagainya. Hal-hal seperti itu dilakukan untuk menyambut berkumandangnya bedug maghrib. Mungkin sebagai pengalihan dari letih dan lapar. Mungkin pula sebagai relaksasi.
Kalau Pemilihan Presiden (Pilpres)? Nah, ini yang membedakannya dari Ramadhan tahun kemarin. Hiruk-pikuk Pilpres tentu saja membawa warna baru dalam kehidupan masyarakat Madura, utamanya pada bulan Ramadhan kali ini. Fenomena Pemilihan Legislatif (pileg) maupun Pilpres memang menarik karena ada saja hal-hal baru menyangkut tren, budaya, maupun kelucuan-kelucuan yang ditimbulkannya. Insya Allah saya akan menuliskannya dalam kesempatan yang lain.
Oya, tradisi yang juga masih lestari di bulan suci ini adalah tong-tong. Tong-tong merupakan alat bebunyian yang biasanya dibuat dari bambu dengan melubangi bagian sampingnya. Ada pula yang membikinnya dari batok siwalan yang sudah tua. Musik tradisional ini biasanya dibunyikan ketika menjelang sahur. Beberapa warga akan berkeliling melewati jalan-jalan desa sambil memukul tong-tong untuk membangunkan warga agar tidak telat sahur.

WANITA DI MATA ORANG MADURA

Selamat hari Kartini. 21 April tidak lepas dari sosok wanita yang dibicarakan seantero jagad nusantara. Dia lah bernama Kartini. 21 April menjadi sejarah bagaimana masyarakat begitu memperhatikan emansipasi untuk wanita. Tidak terkecuali bagi orang Madura. Lelaki Madura sangat menghargai wanita. Bahkan kaum lelaki berani mati demi wanita. Tradisi Carok lahir kebanyakan karena wanita. Bagaimanakah orang Madura memandang wanita?
***
Adat dan kepribadian orang Madura merupakan titik tolak terbentuknya watak dengan prinsip teguh yang dipengaruhi oleh karakteristik geografis daerahnya. Satu prinsip yang menjadi fenomena orang Madura, ialah dikenal sebagai orang yang mampu mengambil dan menarik manfaat yang dilakukan dari hasil budi orang lain, tanpa mengorbankan kepribadiannya sendiri. Demikian pula orang Madura pada umumnya menghargai dan menjunjung tinggi rasa solidaritas kepada orang lain.
wanita madura
Sikap hidup semacam ini, menjadikan orang-orang Madura diluar Madura mudah dikenal, supel serta menunjukkan sikap toleran terhadap sesama. Kadang kontradiktif bila melihat penampilan fisik bila dibandingkan kenyataan hidup yang sebenarnya. Sebagai contoh, bila satu rumah tangga kedatangan tamu (apalagi tamu jauh), dapat dipastikan mereka sangat dihormati. Mereka berani berkorban untuk menjamu sang tamu, meski hanya secangkir air. Kalaupun dapat, mereka berusaha memuaskan dengan jamuan lebih, bahkan berani mencari hutang demi menghormati tamu. Tapi sebaliknya apabila penghargaan itu ditolak atau meski sedikit tidak mau dicicipi suguhannya, maka tamu tersebut berarti dianggap menginjak penghargaan tuan rumah. Dan kemungkinan semacam ini akan tumbuh benih-benih rasa benci dan dendam.
Sebagai suku yang hidup di kepualauan, orang Madura dijaman dulu kurang mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Mereka sangat berhati-hati, dan akibatnya sesuatu yang datang dari luar merupakan ancaman bagi dirinya. Meskipun pada dasarnya mereka konservatif, yakni berusaha memelihara dan menjamin nilai-nilai yang mengakar dalam dirinya. Tapi dalam segi yang lain, orang Madura menunjukkan naluri yang kuat untuk menjamin dan bertahan kelangsungan hidup, karena mereka didorong untuk menerima dan memanfaatkan nilai-nilai yang terserap dari luar.
Carok, Wanita = Harga Diri
Tiang penyangga kuatnya tradisi Madura tak lepas dari prinsip “ Lebbhi bagus pote tolang etembheng pote mata “ maksudnya lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu. Ungkapan ini berlaku demi untuk mempertahankan martabat, hak dan harga diri sebagai orang Madura. Dan biasanya timbulnya perselisihan tidak lepas dari permasalahan lingkungan dan wanita…..!!!
Dan tentang wanita sendiri, bagi laki-laki Madura mendapat tempat tertinggi, karena dari wanitalah kaum pria di Madura menjadi lebih bersemangat, dan dari kaum wanita pula dapat menimbulkan carok. Karena tingginya kedudukan wanita Madura, maka kaum wanita khususnya para gadis dikonotasikan dengan perlambang bunga melati. Maka tak heran falsafah melati menjadi pujian bagi orang-orang tua Madura dengan ucapan “duh tang malate”, ta’ gegger polana ojen, ban ta’ elop polana panas are”, artinya; oh melatiku, yang tak gugur karena hujan dan tak layu karena panas matahari.
Kalaupun dalam suatu peristiwa carok disebabkan karena wanita, hal itu telah merupakan kenyataan yang tak mungkin dihindarkan. Demikian pula masalah hak. Permasalahan ini erat kaitannya dengan permasalahan linkungan yang dijajah atau diganggu oleh pihak lain. Dalam wujud ini, biasanya banyak dikaitkan dengan permasalahan irigasi yang merupakan penentu kelangsungan hidup bagi masyarakat setempat. Karena hanya air yang menjadikan mereka dapat bertahan.
Tapi dalam kondisi yang lain, peranan wanita Madura dibandingkan dengan kaum pria belum seluas sebagaimana peran-peran yang dilakukan wanita-wanita kota besar, meskipun pada dasarnya wanita Madura telah mengenal persamaan hak dan kewajiban dengan suami. Atau dengan kata lain bisa disebut semacam emansipasi pembawaan naluri. Seorang istri mampunyai peran dan tanggung jawab yang sangat penting untuk menegakkan martabat dan kehidupan rumah tangga. Mereka bersama-sama turun ke ladang membanting tulang dan memeras keringat hingga “ agili pello koneng “ (mengalir keringat kuning), maksudnya bekerja keras sampai tuntas.
Rasa kebersamaan kerja ini juga berlaku di pasar, di laut, atau dimana saja sang suami membanting tulang. Namun demikian satu kelebihan wanita Madura, tugas-tugas yang lain, baik sebagai ibu dari anak-anaknya maupun sebagai pendamping suami dalam menyiapkan kebutuhan suami maupun tetek bengek lainnya, sang istri akan selalu setia melayani. Tetapi didalam persamaan hak tersebut, wanita Madura menurut tradisi harus selalu hidup dibawah kekuasaan pria (suami). Artinya wanita Madura harus tunduk, patuh, taat dan menyerah pada kemauan suami dan tidak dibenarkan untuk menolak maupun membantah. Bahkan untuk menentukan perkawinan diteruskan atau diputuskan. Dan apabila suami tidak mampu memberikan keturunan, biasanya sang suami mengambil inisiatif untuk menalak atau kawin lagi dengan alasan demi meneruskan keturunan.
Demikian pula sebaliknya sang suami tidak akan merestui bila istri berkehendak minta cerai. Kecuali bila suami melepaskan dengan suka rela. Tapi hal itu jarang dan sulit terjadi, karena menyangkut prestise dan harga diri sebagai laki-laki yang harus dipertahankan. Kalaupun sampai terjadi, maka akan berakibat buruk dan berkepanjangan, terutama kalau perkawinan terjadi antar keluarga. Hubungan keluarga akan menjadi retak. Akibat yang lain bila suatu ketika bekas istrinya kawin lagi dengan pria lain, maka tak ayal akan terjadi dan timbul permusuhan, cemburu dan sakit hati bekas suaminya. Apalagi dikemudian hari bekas istri menemukan kebahagiaan lain.
Pada prinsipnya, suami orang Madura biasanya bersikap keras dan tegas dalam membela kehormatan dan kesudian istrinya. Dan umumnya pangkal utama timbulnya perselisihan dari kaum wanita. Sehingga tak heran timbulnya carok, kadang hanya masalah sepele, yaitu lantaran bekas istri dilamar atau dikawini oleh laki-laki lain. Jadi seorang untuk melawar seorang wanita (janda), harus seijin mantan suaminya, hal ini merupaka etika, tatakrama yang masing-masing saling menghargai. Kalau tidak, sama artinya merobek harga diri

PROFESI UNIK ORANG MADURA

Tukang Cukur Madura (Foto: Jaringnews.com)
Tukang Cukur Madura (Foto: Jaringnews.com)
Suku Madura sudah sangat terkenal dengan predikat perantau, meskipun tidak semua orang Madura melakukannya, kebanyakan alasan dari mereka merantau selain untuk pendidikan adalah untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka, hal ini dilakukan karena di Madura sendiri perkembangan yang cukup lamban dalam pembangunan ekonomi, mulai dari keterbatasan modal, tidak meratanya pendidikan dan hasil pertanian yang hanya cukup untuk dimakan saja, orang Madura dikenal cukup ulet dalam perantauan, baik sebagai tenaga kerja ataupun usaha mandiri di perantauan, pekerjaan-pekerjaan mereka pun terbilang cukup unik dalam perantauan, meskipun bagi sebagian orang pekerjaan itu dipandang pekerjaan rendahan, tapi justru disitu keuletan orang Madura, mereka membaca peluang yang bagi orang lain itu adalah pekerjaan yang tidak layak untuk digarap atau dikerjakan, dari hal-hal begitulah orang Madura mengais rupiah, tidak jarang dari mereka diperantauan terbilang sukses dari segi ekonomi, dengan begitu mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi, membangun rumah di kampung, membeli tanah sebagai wujud investasi dan bahkan mereka tidak lupa berbagi dengan orang-orang yang belum mampu, biasanya ketika mereka sudah mulai sukses di perantauan maka mereka akan membawa sanak saudara ataupun tetangga untuk ikut serta dalam pekerjaan dan bisnisnya, mekipun orang Madura dikenal berwatak keras, mereka cenderung sopan di perantauan selama mereka tidak diusik, dan satu lagi, orang Madura tingkat solidaritasnya sangat tinggi di perantauan sesama dari suyku Madura, hal yang kemudian menarik bagi saya untuk ditelisik meskipun mungkin tidak berdasarkan penelitian dengan angka-angka statistik adalah beberapa pekerjaan yang paling banyak ditekuni oleh orang Madura diperantauan.
  1. TKI (Tenaga Kerja Indonesia)
Mungkin profesi inilah yang paling banyak ditekuni oleh sebagian orang Madura, karena tergiur dengan upah yang ditawarkan profesi ini sering sekali jadi alternatif bagi masyarakat Madura baik yg masih muda taupun mereka yang bahkan sudah berkeluarga, tidak jarang dari mereka untuk menjadi TKI atau TKW meminjam uang kepada sanak family sebagai modal awal untuk mengurus paspor dan visa, yang nantinya akan dibayar setelah mereka bekerja, adapun Negara-negara yang menjadi tujuan antara lain Arab Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam, Korea dan beberapa Negara lainnya, mereka akan bertahan disana dengan bekerja sebagai buruh kasar, seperti buruh bangunan, pembantu rumah tangga dan lain sebagainya hanya untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan menyekolahkan anak-anaknya.
  1. Pemulung dan Pengepul Barang Bekas
Bagi sebagian orang ini bahkan bukan profesi terburuk yg mereka pikirkan, tapi bagi orang Madura ini adalah peluang, dimana mereka tidak harus mengeluarkan modal besar atau bahkan tanpa modal sama sekali, berawal dari sebagai pemulung barang-barang bekas yang masih laku dijual kembali atau didaur ulang seperti kertas, plastik, dan besi bekas (meliputi, besi, kuningan, timah, dan tembaga) mereka akan berangsur memperbaiki kondisi ekonomi, setelah cukup modal mereka akan menjadi pengepul, bahkan tidak jarang mereka akan ikut lelang besi-besi bekas pabrik, industri sampai ke bangkai kapal yang tidak lagi dipakai, banyak sekali orang Madura yang sukses sebagi pengusaha barang bekas terutama besi tua, bahkan tetangga saya sudah bisa naik haji tiap tahun, dan zakatnya dalam 1 tahun tidak kurang dari 200jt dari hasil menjadi pengusaha besi tua. Orang Madura sangat terkenal denga menafsirkan harga besi tua bahkan sampai ada yang bilang ke saya “kalo orang Madura itu bisa menafsirkan harga besi kapal yang lagi karam dan tidak Nampak dipermukaan” pengusaha-pengusaha barang bekas ini tersebar mulai dari Jakarta, Surabaya bahkan sampai ke Pulau Kalimantan.
  1. Penjual Sate
Sate yang merupakan makanan khas Madura menjadi ladang bisnis yang menjanjikan rupiah yang tidak sedikit, dan ketika ingat sate maka yang terlintas pertama dipikiran kita adalah sate Madura selain sate padang mungkin, hampir diseluruh Indonesia sate tidak terlalu susah untuk ditemui, mulai dari yang menjajakan satenya dengan gerobak, yang berjualan di pinggir jalan sampai ke warung sate yang cukup besar, profesi ini banyak juga dipilih orang Madura di perantauan.
  1. Tukang Cukur Rambut
Profesi ini cukup unik ditengah gempuran salon-salon professional, namun orang Madura sekali lagi jeli dalam membaca peluang, pasar yang disasar adalah menengah kebawah dengan harga yang terjangkau mulai dari Rp. 7000 – Rp. 15.000 namun pelayanan yang diberikan tidak kalah dengan salon-salon modern, setiap kali anda bercukur di pangkas rambut Madura setelah selesai dicukur anda akan dipijat mulai dari sekitar bahu, leher sampai ke kepala, dan tidak sedikit yang ketagihan dengan pijatan enaknya ini :D, profesi ini ditekuni orang Madura terutama dari kabupaten Bangkalan, tepatnya orang-orang dari kecamatan Socah. Penyebarannya pun terbilang luas mulai dari kota-kota besar sampai kepenjuru Papua.
  1. Pelaut
Mungkin terinspirasi dari lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” dan dengan kondisi geografis pulau Madura yang dikelilingi laut profesi ini jadi pilihan beberapa pemuda Madura, meskipun profesi ini membutuhkan modal awal yang cukup besar, dalam pendidikannya, sertifikasinya dll namun profesi ini cukup jadi favorit dengan gaji yang lumayan besar, mulai dari kapal-kapal lokal, sampai kapal-kapal yang berlayar internasional, mulai dari kapal penumpang, tanker, kapal cargo maupun kapal ikan yang menjadi pilihan, kebanyakan yang memilih profesi ini pemuda-pemuda dari kabupaten Bangkalan, meliputi beberapa kecamatan, mulai dari socah, arosbaya, klampis dan sepulu.
  1. Pedagang Asongan dan Warung Makan
Selain berjualan sate orang Madura yang diperantauan juga memilih menjadi pedagang asongan seperti rokok, kopi di tempat-tempat umum, mulai dari pelabuihan, terminal, stasiun sampai ke tempat-tempat wisata, selain menjadi pedagang asongan bagi orang Madura yang punya cukup modal biasanya mereka akan membuka warung makan, makanan yang dijualpun variatif mulai dari bubur kacang hijau, nasi jagung, sampai ke Nasi Bebek, kerap sekali warung-warung orang Madura ramai dikunjungi pemburu kuliner atau karyawan yang hanya sekedar makan, pasalnya masakan orang Madura yang cenderung berani dalam membubuhkan bumbu sehingga menghasilkan makanan yang lezat.
Sejauh pengamatan saya meskipun tidak diprosentasekan dalam angka, itulah profesi-profesi orang Madura di perantauan, tidak dapat dipungkiri masih banyak profesi yang tidak disebutkan diatas, karena selain orang Madura memang punya profesi-profesi yang terbilang unik orang Madura juga kerap berimprovisasi dengan kondisi tempat mereka merantau, misal saja bagi orang Madura yang berada di pulau Kalimantan dan Papaua mereka ada yang memilih profesi sebagai pedagang kayu olahan, mengelola perkebunan dan pertanian, bagaimanapun saya bangga terlahir sebagai Madura, meskipun beberapa orang memandang sebelah mata, dan menganggap orang Madura  primitif, keras dan sebagainya, “Aku adalah Darah Madura dan Aku adalah Indonesia”

TRADISI TORON

 TRADISI TORON
Sabtu, 25 Juli 2009 silam, dalam acara Halaqah Kebangsaan di PP. Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, D. Zawawi Imron mengatakan bahwa salah satu inferioritas orang Madura adalah dalam cara mengistilahkan kepulangan orang Madura dari tanah Jawa yang disebut toron (turun). Bagi Zawawi, istilah ini terkesan mengganjal karena nyatanya secara geografis tanah Madura tidaklah lebih rendah dari tanah Jawa. Kenapa harus disebut turun? Menurutnya, ini merupakan sikap rendah diri orang Madura. Orang Madura menganggap orang Jawa superior.
toron

Namun, pernyataan itu justru dibalik oleh KH. Mustofa Bisri yang hadir juga dalam kesempatan tersebut. Bagi Gus Mus, panggilannya, justru penyebutan toron malah memperlihatkan sikap kerendahhatian orang Madura. Masyarakat Madura menganggap orang Jawa lebih tinggi karena itu merupakan sikap menghargai dan memuliakan orang lain. Gus Mus menyatakan bahwa ulama-ulama di tanah Jawa merupakan murid dari ulama-ulama di Madura. Syaikhona Kholil Bangkalan telah melahirkan generasi ulama yang tersebar di berbagai tempat di tanah Jawa. Ini, menurut Gus Mus, merupakan prestasi orang Madura yang luar biasa dan tidak bisa disepelekan.
Toron merupakan istilah lokal untuk menyebut kepulangan orang Madura dari tanah rantau. Masyarakat Madura yang banyak merantau biasanya berbondong-bondong toron saat hampir menjelang Idul Fitri. Ada tiga momen yang biasanya mendorong mereka melakukan toron, yaitu waktu menjelang Lebaran Idul Fitri, Idul Adha, dan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Toron dalam bahasa lain bisa disebut mudik.
Pada tanggal likuran Ramadhan, orang Madura biasanya sudah banyak yang pulang ke kampung halamannya. Saat itu, jalur kendaraan bisa dipastikan makin ramai. Orang-orang Madura merasa kurang sempurna bila berlebaran di daerah orang lain. Makanya, mereka memilih pulang meski tempat kerjanya jauh di perantauan. Hal itu merupakan sikap orang Madura yang guyub. Keluarga di rumah selalu menunggu mereka pulang ke kampung halamannya.
Kebanyakan mereka akan kembali ke perantauan setelah Tellasan Petto’atau Tellasan Topa’(lebaran ketupat). Ini kebiasaan yang agak berbeda dari orang di luar Madura. Mengapa kembali setelah TellasanTopa’ Karena momen lebaran ketupat (tujuh hari setelah Idul Fitri) dirayakan oleh orang Madura. Pada hari itu, orang-orang membuat ketupat untuk dibagikan kepada para tetangga. Sebagian dibawa ke masjid atau mushalla untuk suguhan jamaah yang ikut tahlilan.
Di luar Madura, perayaan Tellasan Topa’ jarang dilakukan. Mereka membuat ketupat justru pada saat hari raya Idul Fitri. Inilah yang membedakan antara masyarakat Madura dengan masyarakat dari daerah lain. Ini pula yang menyebabkan sebagian besar mereka memilih kembali ke perantauan setelah Tellasan Topa’.
Tellasan Topa’ bagi sebagian orang juga dijadikan sebagai penanda berakhirnya silaturrahmi kepada kerabat dalam rangka Lebaran Idul Fitri.